Rabu, 18 Mei 2016

10 Penyebab 2 Juta Muslim Menjadi Murtad Setiap Tahun di Indonesia, adalah Kegagalan Ustad/Ustadzah Oportunies

Berdasarkan temuan yang dilansir oleh sumber yang akurat, Irjen Pol (Pur) Anton Tabah seorang tokoh pemerhati, aktivis, kolumnis/penulis terkenal dan pernah menjadi ajudan presiden Soeharto (sumber) bahwa Jumlah umat muslim di Indonesia sekarang (tahun 2016) sebanyak 73% mengalami penurunan bertahap dari tahun ke tahun sejak 1950 yang pada saat itu berjumlah 99% dan Indonesia terkenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Bila pada masa lampau pemurtadan di indonesia cenderung karena faktor ekonomi, menyasar masyarakat miskin, namun sekarang yang terjadi adalah umat Islam yang telah berpendidikan baik memilih menjadi murtad. Menyikapi hal ini penulis berpendapat masyarakat perlu memandang dengan cermat dan merupakan koreksi yang tajam kepada para mubaligh bahwa yang dilakukan selama ini adalah keliru dan perlu penyadaran dengan kondisi yang ada. Namun juga tergantung dengan musimnya, toh keyakinan memeluk agama di Indonesia adalah hak dasar setiap orang yang dilindungi negara. Suatu saat Islam kembali menjadi baik oleh perilaku pemimpin dan umatnya, maka akan kembali ramai yang masuk Islam. Tapi disayangkan apabila keberhasilan indeks demokrasi di Indonesia pengukuran hanya berdasar jumlah mayoritas dan minoritas, maka ketika agama masuk ke ranah politik, persoalan bangsa kita tidak akan pernah selesai. Perlu digaris bawahi apabila keberhasilan tujuan dakwah Islam adalah kalkulasi jumlah umatnya, maka bisa dikatakan sedang terjadi kemunduran Islam di Indonesia.


Senin, 14 Desember 2015

Asal-Muasal Perayaan Maulid Nabi Muhammad s.a.w.

ALLAH SWT Berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab [33]: 21).
Berbagai bentuk peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan kaum muslimin pada bulan Rabi’ul Awwal sejatinya merupakan sebuah representasi rasa syukur atas kelahiran beliau, sehingga diharapkan momen Maulid merupakan refleksi diri setiap muslim untuk terus menerus istiqamah, meningkatkan rasa cinta kepada beliau, tetap komit menjalankan ajaran-ajaran Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan baik ranah pribadi, sosial masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Peringatan maupun acara perayaan Maulid Nabi yang kita kenal sekarang ini pertama kali dicetuskan oleh seorang jenderal dan pejuang muslim yang sangat terkenal dan disegani kawan dan lawan di bumi belahan timur dan barat yaitu Shalahuddin al-Ayyubi atau di barat lebih dikenal dengan nama Saladin, beliau hidup pada tahun 1137-1193 M. Pada saata itu perang salib sedang berkecamuk, sebagai seorang pemimpin beliau sadar betul bahwa moral dan semangat kaum muslimin dan pasukannya harus terus dipompa demi perjuangan menghadapi musuh, maka saat itulah beliau berinisiatif mengobarkan semangat juang pasukannya dengan mengisahkan kembali semangat perjuangan Nabi dan para sahabat, semangat pantang mundur, semangat ketaqwaan, semangat keimanan dan semangat jihad dakam menegakkan kalimat tauhid.
Mengenai urgensi Maulid itulah, ulama kontemporer Islam, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam khutbahnya di masjid Al-Azhar, Kairo mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sangatlah penting pada zaman sekarang bagi ummat Islam, mengingat jarak umat Islam sekarang terpaut jauh dari masa hidup Rasulullah saw. Beliau menjelaskan, dulu para Sahabat mungkin tidak perlu merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. karena mereka bertemu langsung dengan Rasulullah, mereka mengetahui persis pribadi Rasulullah saw. Para Sahabat bahkan menghafal pribadi Rasulullah saw, sama seperti menghafal al-Quran, kata beliau.
Lebih lanjut lagi, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. tidaklah semata-mata memperingati hari kelahiran beliau, namun yang lebih penting adalah sifat dan pribadi beliau yang mulia. Umat perlu mengingat dan mengetahui kepribadian Rasulullah saw., karena beliau merupakan suri tauladan yang baik. Kepribadian Rasulullah saw. tidak pernah ditutupi sedikitpun, tidak seperti manusia lainnya yang memiliki sisi dari kepribadiannya yang tersembunyi. Semua orang tahu bagaimana pribadi Rasulullah saw., mulai dari beliau lahir hingga wafat. Ini merupakan salah satu keistimewaan kepribadian Rasulullah saw.🙏

Minggu, 13 Desember 2015

Berbagi Informasi


Hasil copas dari tetangga sebelah  (14 Desember 2015) dalam rangka berbagi informasi, semoga bermantfaat


Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah , j anakku...

Jumat, 20 Maret 2015

Renungan


Pengorbanan Ibu

Pernah Rasullah saw ditanya siapakah orang yang paling kita harus hormati di hidup ini. Maka jawab beliau: IBU sampai tiga kali diulang Rasullah saw. Berikut ini video yang menggambarkan seorang ibu melahirkan anak kembar, yang satu divonis dokter telah tiada. Ibunya mendekap anak yang divonis telah meninggal dan berkata bangunlah anakku, bangunlah anakku sambil berlinang air mata. Untuk terus kisah  klik


Dialog Sopir Taksi  dan Ulama Salafi

Kita semua paham, bahwa  sebaik-baiknya zaman adalah masa Rasullah dan para sahabatnya. Tetapi kita pun kita sadar, bahwa zaman dan peradaban terus berubah modern dan tak dapat ditolak kita. Yang kita tolak adalah cara hidup yang tidak Islami, tidak Qur'ani, tidak mengikuti sunah Rasullah. Berikut ini renungan bagi kita. Silahkan klik video ini

Rencana Penerbitan Kitab Hadis

Kita semua paham, bahwa  ucapan  dan sunnah Rasullah saw adalah pegangan kita melaksanakan perintah Allah.  Tetapi kita pun kita sadar, perlu adanya kitab hadis yang menjadi pegangan kita sehari-hari .   Darkuti merencanakan akan menerbitkan Kitab Hadis Pegangan dari karya Maulana Muhammad Ali berjudul Manual of Hadith.. Berikut ini contoh  yang sedang dikerjakan dan mengharapkan masukan dari pembaca. Silahkan klik 

Jumat, 13 Juni 2014

PROMO QUR'AN EDISI BARU

PROMOSI QURAN BARU. silahkan  klik disini

QURAN BAHASA JAWA

Sehubungan adanya peermintaan tgeman-teman dari Suriname yang masih berbasa Jawa, maka kami ingin memberi sumbangan  e-book Quran Bahasa Jawi9. Silhakan klik

Kamis, 03 Maret 2011

Power Point Tafsir Qur'an Suci

Berikut ini presentasi power point tentang resensi Tafsir Qur'an Suci. Jika Anda berminat buku ini silahkan pesan pada petugas kami. Terima kasih atas pesanan Anda.Silahkan

Power Point Islamologi

Berikut ini presentasi buku Islamologi. Jika anda tertarik dapat memesan buku ini kepada petugas kami. Terima kasih atas pesanan Anda. Telah terbit edisi baru dengan jumlah terbatas dan harga Rp.110.000,00